Denting Lonceng Hati

Icon

Sebuah Blog Yang Menggugah Hati – Kalo Sumbang Janganlah DIdengarkan, Kalo Merdu Ikutlah Bernyanyi

what is

what is loyalty
if the loyalist always suffer?
and the betrayer seems always happy?

what is happines
if it seems so hard to reach
if to reach it has to saccrifice another person?

what is dream
if to reach it has to saccrifice all you have got?

what is saccrifice
if your saccrifices never been awared?

what is dignity
if with it we have to lost something that we treasure?

what is shame
if with it we can pretend something that we love?

what is being hurt
if we don’t lose anything we have?

what is live
if we don’t have any hope to reach?

what is die
if we haven’t reach anything in our live?

what is hope
if we are not seeing the light of it?

so what is left?

Filed under: jalan-jalan Jalan Hidup, kamu...

Diproteksi: surat ini

Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:


Filed under: kamu...

Wanita Itu Menjual Keperawanannya

from the desktop of noe

Wanita itu berjalan agak ragu memasuki hotel berbintang lima . Sang petugas satpam yang berdiri di samping pintu hotel menangkap kecurigaan pada wanita itu. Tapi dia hanya memandang saja dengan awas ke arah langkah wanita itu yang kemudian mengambil tempat duduk di lounge yang agak di pojok.

Petugas satpam itu memperhatikan sekian lama, ada sesuatu yang harus dicurigainya terhadap wanita itu. Karena dua kali waiter mendatanginya tapi, wanita itu hanya menggelengkan kepala. Mejanya masih kosong. Tak ada yang dipesan. Lantas untuk apa wanita itu duduk seorang diri. Adakah seseorang yang sedang ditunggunya.

Petugas satpam itu mulai berpikir bahwa wanita itu bukanlah tipe wanita nakal yang biasa mencari mangsa di hotel ini. Usianya nampak belum terlalu dewasa. Tapi tak bisa dibilang anak-anak. Sekitar usia remaja yang tengah beranjak dewasa.

Setelah sekian lama, akhirnya memaksa petugas satpam itu untuk mendekati meja wanita itu dan bertanya:

” Maaf, nona … Apakah anda sedang menunggu seseorang?
” Tidak! ” Jawab wanita itu sambil mengalihkan wajahnya ke tempat lain.

” Lantas untuk apa anda duduk disini?
” Apakah tidak boleh? ” Wanita itu mulai memandang ke arah sang petugas satpam.

” Maaf, Nona. Ini tempat berkelas dan hanya diperuntukan bagi orang yang ingin menikmati layanan kami.”
” Maksud, bapak?

” Anda harus memesan sesuatu untuk bisa duduk disini ”
” Nanti saya akan pesan setelah saya ada uang.
Tapi sekarang, izinkanlah saya duduk disini untuk sesuatu yang akan saya jual ” Kata wanita itu dengan suara lambat.

” Jual? Apakah anda menjual sesuatu disini? ”

Petugas satpam itu memperhatikan wanita itu. Tak nampak ada barang yang akan dijual. Mungkin wanita ini adalah pramuniaga yang hanya membawa brosur.

” Ok, lah. Apapun yang akan anda jual, ini bukanlah tempat untuk berjualan. Mohon mengerti. ”
” Saya ingin menjual diri saya, ” Kata wanita itu dengan tegas sambil menatap dalam dalam kearah petugas satpam itu.

Petugas satpam itu terkesima sambil melihat ke kiri dan ke kanan.
” Mari ikut saya, ” Kata petugas satpam itu memberikan isyarat dengan tangannya.

Wanita itu menangkap sesuatu tindakan kooperativ karena ada secuil senyum diwajah petugas satpam itu. Tanpa ragu wanita itu melangkah mengikuti petugas satpam itu.

Di koridor hotel itu terdapat korsi yang hanya untuk satu orang. Di sebelahnya ada telepon antar ruangan yang tersedia khusus bagi pengunjung yang ingin menghubungi penghuni kamar di hotel ini. Di tempat inilah deal berlangsung.

” Apakah anda serius? ”
” Saya serius ” Jawab wanita itu tegas.
” Berapa tarif yang anda minta? ”
” Setinggi tingginya..’ ‘

” Mengapa? Petugas satpam itu terkejut sambil menatap wanita itu.
” Saya masih perawan ”

” Perawan? ” Sekarang petugas satpam itu benar benar terperanjat. Tapi wajahnya berseri. Peluang emas untuk mendapatkan rezeki berlebih hari ini.. Pikirnya

” Bagaimana saya tahu anda masih perawan?”
” Gampang sekali. Semua pria dewasa tahu membedakan mana perawan dan mana bukan. Ya kan …”

” Kalau tidak terbukti?
” Tidak usah bayar …”

” Baiklah …” Petugas satpam itu menghela napas. Kemudian melirik ke kiri dan ke kanan.
” Saya akan membantu mendapatkan pria kaya yang ingin membeli keperawanan anda. ”
” Cobalah. ”

” Berapa tarif yang diminta? ”
” Setinggi tingginya. ”
” Berapa? ”
” Setinggi tingginya. Saya tidak tahu berapa? ”

” Baiklah. Saya akan tawarkan kepada tamu hotel ini. Tunggu sebentar ya. ”

Petugas satpam itu berlalu dari hadapan wanita itu.

Tak berapa lama kemudian, petugas satpam itu datang lagi dengan wajah cerah.

” Saya sudah dapatkan seorang penawar. Dia minta Rp. 5 juta. Bagaimana? ”
” Tidak adakah yang lebih tinggi? ”
” Ini termasuk yang tertinggi, ” Petugas satpam itu mencoba meyakinkan.
” Saya ingin yang lebih tinggi…”
” Baiklah. Tunggu disini …” Petugas satpam itu berlalu.

Tak berapa lama petugas satpam itu datang lagi dengan wajah lebih berseri.

” Saya dapatkan harga yang lebih tinggi. Rp. 6 juta rupiah. Bagaimana? ”

” Tidak adakah yang lebih tinggi? ”

” Nona, ini harga sangat pantas untuk anda. Cobalah bayangkan, bila anda diperkosa oleh pria, anda tidak akan mendapatkan apa apa. Atau andai perawan anda diambil oleh pacar anda, andapun tidak akan mendapatkan apa apa, kecuali janji. Dengan uang Rp. 6 juta anda akan menikmati layanan hotel berbintang untuk semalam dan keesokan paginya anda bisa melupakan semuanya dengan membawa uang banyak. Dan lagi, anda juga telah berbuat baik terhadap saya. Karena saya akan mendapatkan komisi dari transaksi ini dari tamu hotel. Adilkan. Kita sama sama butuh … ”

” Saya ingin tawaran tertinggi … ” Jawab wanita itu, tanpa peduli dengan celoteh petugas satpam itu.

Petugas satpam itu terdiam. Namun tidak kehilangan semangat.

” Baiklah, saya akan carikan tamu lainnya.
Tapi sebaiknya anda ikut saya.
Tolong kancing baju anda disingkapkan sedikit.
Agar ada sesuatu yang memancing mata orang untuk membeli. ” Kata petugas satpam itu dengan agak kesal.

Wanita itu tak peduli dengan saran petugas satpam itu tapi tetap mengikuti langkah petugas satpam itu memasuki lift.

Pintu kamar hotel itu terbuka. Dari dalam nampak pria bermata sipit agak berumur tersenyum menatap mereka berdua.

” Ini yang saya maksud, tuan. Apakah tuan berminat? ” Kata petugas satpam itu dengan sopan.

Pria bermata sipit itu menatap dengan seksama kesekujur tubuh wanita itu …

” Berapa? ” Tanya pria itu kepada Wanita itu.
” Setinggi tingginya ” Jawab wanita itu dengan tegas.
” Berapa harga tertinggi yang sudah ditawar orang? ” Kata pria itu kepada sang petugas satpam.
” Rp. 6 juta, tuan ”
” Kalau begitu saya berani dengan harga Rp. 7 juta untuk semalam. ”

Wanita itu terdiam.

Petugas satpam itu memandang ke arah wanita itu dan berharap ada jawaban bagus dari wanita itu.

” Bagaimana? ” tanya pria itu.
”Saya ingin lebih tinggi lagi …” Kata wanita itu.

Petugas satpam itu tersenyum kecut.

” Bawa pergi wanita ini. ” Kata pria itu kepada petugas satpam sambil menutup pintu kamar dengan keras.

” Nona, anda telah membuat saya kesal. Apakah anda benar benar ingin menjual? ”
” Tentu! ”
” Kalau begitu mengapa anda menolak harga tertinggi itu … ”
” Saya minta yang lebih tinggi lagi …”

Petugas satpam itu menghela napas panjang. Seakan menahan emosi. Dia pun tak ingin kesempatan ini hilang.
Dicobanya untuk tetap membuat wanita itu merasa nyaman bersamanya.

” Kalau begitu, kamu tunggu ditempat tadi saja, ya. Saya akan mencoba mencari penawar yang lainnya. ”

Di lobi hotel, petugas satpam itu berusaha memandang satu per satu pria yang ada. Berusaha mencari langganan yang biasa memesan wanita melaluinya. Sudah sekian lama, tak ada yang nampak dikenalnya. Namun, tak begitu jauh dari hadapannya ada seorang pria yang sedang berbicara lewat telepon genggamnya.

” Bukankah kemarin saya sudah kasih kamu uang 25 juta Ripiah.
Apakah itu tidak cukup? Terdengar suara pria itu berbicara.
Wajah pria itu nampak masam seketika

” Datanglah kemari. Saya tunggu. Saya kangen kamu.
Kan sudah seminggu lebih kita engga ketemu, ya sayang?! ”

Kini petugas satpam itu tahu, bahwa pria itu sedang berbicara dengan wanita.
Kemudian, dilihatnya, pria itu menutup teleponnya. Ada kekesalan diwajah pria itu.

Dengan tenang, petugas satpam itu berkata kepada Pria itu: ” Pak, apakah anda butuh wanita … ??? ”

Pria itu menatap sekilas kearah petugas satpam dan kemudian memalingkan wajahnya.

” Ada wanita yang duduk disana, ” Petugas satpam itu menujuk kearah wanita tadi.

Petugas satpam itu tak kehilangan akal untuk memanfaatkan peluang ini. ” Dia masih perawan..”

Pria itu mendekati petugas satpam itu.
Wajah mereka hanya berjarak setengah meter. ” Benarkah itu? ”
” Benar, pak. ”
” Kalau begitu kenalkan saya dengan wanita itu … ”
” Dengan senang hati. Tapi, pak …Wanita itu minta harga setinggi tingginya.”
” Saya tidak peduli … ” Pria itu menjawab dengan tegas.

Pria itu menyalami hangat wanita itu.
” Bapak ini siap membayar berapapun yang kamu minta. Nah, sekarang seriuslah …” Kata petugas satpam itu dengan nada kesal.

” Mari kita bicara dikamar saja.” Kata pria itu sambil menyisipkan uang kepada petugas satpam itu.

Wanita itu mengikuti pria itu menuju kamarnya.

Di dalam kamar …

” Beritahu berapa harga yang kamu minta? ”
” Seharga untuk kesembuhan ibu saya dari penyakit ”
” Maksud kamu? ”
” Saya ingin menjual satu satunya harta dan kehormatan saya untuk kesembuhan ibu saya. Itulah cara saya berterimakasih …. ”
” Hanya itu …”
” Ya …! ”

Pria itu memperhatikan wajah wanita itu. Nampak terlalu muda untuk menjual kehormatannya. Wanita ini tidak menjual cintanya. Tidak pula menjual penderitaannya. Tidak! Dia hanya ingin tampil sebagai petarung gagah berani ditengah kehidupan sosial yang tak lagi gratis. Pria ini sadar, bahwa dihadapannya ada sesuatu kehormatan yang tak ternilai. Melebihi dari kehormatan sebuah perawan bagi wanita. Yaitu keteguhan untuk sebuah pengorbanan tanpa ada rasa sesal. Wanta ini tidak melawan gelombang laut melainkan ikut kemana gelombang membawa dia pergi. Ada kepasrahan diatas keyakinan tak tertandingi. Bahwa kehormatan akan selalu bernilai dan dibeli oleh orang terhormat pula dengan cara-cara terhormat.

” Siapa nama kamu? ”
” Itu tidak penting. Sebutkanlah harga yang bisa bapak bayar … ” Kata wanita itu
” Saya tak bisa menyebutkan harganya. Karena kamu bukanlah sesuatu yang pantas ditawar. ”
”Kalau begitu, tidak ada kesepakatan! ”

” Ada ! Kata pria itu seketika.

” Sebutkan! ”

” Saya membayar keberanianmu. Itulah yang dapat saya beli dari kamu.
Terimalah uang ini. Jumlahnya lebih dari cukup untuk membawa ibumu kerumah sakit.
Dan sekarang pulanglah … ” Kata pria itu sambil menyerahkan uang dari dalam tas kerjanya.

” Saya tidak mengerti …”

” Selama ini saya selalu memanjakan istri simpanan saya.
Dia menikmati semua pemberian saya tapi dia tak pernah berterimakasih.
Selalu memeras. Sekali saya memberi maka selamanya dia selalu meminta.
Tapi hari ini, saya bisa membeli rasa terimakasih dari seorang wanita yang gagah berani untuk berkorban bagi orang tuanya.
Ini suatu kehormatan yang tak ada nilainya bila saya bisa membayar …”

” Dan, apakah bapak ikhlas…? ”
” Apakah uang itu kurang? ”
” Lebih dari cukup, pak … ”

” Sebelum kamu pergi, boleh saya bertanya satu hal? ”
” Silahkan …”

” Mengapa kamu begitu beraninya … ”

” Siapa bilang saya berani.
Saya takut pak …
Tapi lebih dari seminggu saya berupaya mendapatkan cara untuk membawa ibu saya kerumah sakit dan semuanya gagal.
Ketika saya mengambil keputusan untuk menjual kehormatan saya maka itu bukanlah karena dorongan nafsu.
Bukan pula pertimbangan akal saya yang `bodoh` …
Saya hanya bersikap dan berbuat untuk sebuah keyakinan … ”

” Keyakinan apa? ”

” Jika kita ikhlas berkorban untuk ibu atau siapa saja, maka Allah lah yang akan menjaga kehormatan kita … ” Wanita itu kemudian melangkah keluar kamar.

Sebelum sampai di pintu wanita itu berkata:
” Lantas apa yang bapak dapat dari membeli ini … ”

” Kesadaran… ”

.. . .

Di sebuah rumah dipemukiman kumuh.

Seorang ibu yang sedang terbaring sakit dikejutkan oleh dekapan hangat anaknya.

” Kamu sudah pulang, nak ”
” Ya, bu … ”

” Kemana saja kamu, nak … ???”
” Menjual sesuatu, bu … ”

” Apa yang kamu jual?” Ibu itu menampakkan wajah keheranan. Tapi wanita muda itu hanya tersenyum …

Hidup sebagai yatim lagi miskin terlalu sia-sia untuk diratapi di tengah kehidupan yang serba pongah ini. Di tengah situasi yang tak ada lagi yang gratis. Semua orang berdagang. Membeli dan menjual adalah keseharian yang tak bisa dielakan. Tapi Allah selalu memberi tanpa pamrih, tanpa perhitungan …

” Kini saatnya ibu untuk berobat … ”
Digendongnya ibunya dari pembaringan, sambil berkata: ” Allah telah membeli yang saya jual… ”.

Taksi yang tadi ditumpanginya dari hotel masih setia menunggu di depan rumahnya. Dimasukannya ibunya kedalam taksi dengan hati-hati dan berkata kepada supir taksi: ” Antar kami kerumah sakit …”

Filed under: jalan-jalan Jalan Hidup

Tentang Timnas

dapet dari detik

Ini sudah satu tahun sejak seorang Italia bernama Fabio Capello dipilih sebagai manajer tim nasional Inggris. Sukses terbesarnya sejauh ini adalah dia mengingatkan semua orang bahwa dirinya yang paling menentukan.

Sejak ditangani Capello, berubahkah gaya permainan Inggris? Tidak. Lebih hebatkah tekhnik dan ketrampilan pemain Inggris? Tidak. Meningkatkah pemahaman pemain Inggris akan siasat dan strategi permainan? Tidak.

Jadi? “Ketika untuk pertama kalinya saya memegang tim nasional bertanding melawan Swiss, barulah saya tahu apa yang salah dengan tim ini,” aku Capello. “Saat berlatih, tekhnik dan fisik pemain sungguh fantastis, tetapi begitu turun ke lapangan saya seperti melihat sekelompok pemain yang berbeda. Saat itulah saya tahu problemnya ada di kepala mereka.”

Salah satu teka teki besar di Inggris ini adalah bahwa pemain Inggris bisa tampil luar biasa setiap minggu untuk klub mereka tetapi begitu tampil di tim nasional seolah kemampuan mereka lumer begitu saja. Sebelum-sebelumnya yang selalu disalahkan adalah ketidakmampuan manajer tim nasional untuk menemukan sistem permainan yang cocok untuk memaksimalkan sekumpulan pemain bagus itu.

Capello menyebut alasan itu omong kosong dan mengatakan pemain bagus akan selalu bisa beradaptasi dengan sistem apapun yang diinginkan manajer. Kalau tidak, maka gugurlah sebutan pemain bagus itu. Ia, seperti yang kemudian ia temukan di pertandingan melawan Swiss, menganggap persoalannya adalah rasa percaya diri. Yang ia kemudian coba pecahkan adalah mengapa rasa kurang percaya diri itu muncul dan bagaimana mengatasinya.

Catatan setahun pertama kerjanya adalah pada persoalan ini. Sementara hasil di lapangan adalah sekadar konsekuensi logis dari berhasil tidaknya ia mengurai persoalan itu.

Capello sejak awal sekali menekankan bahwa ia adalah penentu kata akhir apakah pemain bermain buruk atau bagus. Ia menuntut pemain untuk tidak memperhatikan apa kata media yang selalu melakukan penilaian per pertandingan.

Walau tidak pernah mengatakan secara langsung, dalam banyak hal Capello menyalahkan media sebagai pihak yang memahatkan rasa tidak percaya diri pada pemain. Mereka, media, dengan berlebihan melambungkan tim nasional ke awang-awang ketika bermain bagus, tetapi membantai habis-habisan ketika bermain buruk.

Akibatnya muncul semacam atmosfer ketakutan pada apa kata media setiap kali mereka turun ke lapangan. Dan percayalah, media Inggris ini sangat kejam bila membantai pemain mereka sendiri. Akibat lebih lanjut lagi tim nasional seperti bermain untuk menyenangkan media dan bukannya untuk kebanggaan negara. Satu alasan mendasar yang salah bagi pemain ketika turun ke lapangan.

Capello tidak sekadar menuntut pemain untuk bersikap seperti itu. Tetapi ia sendiri memberi contoh tentang mengabaikan sikap media itu. Kritik apapun yang ditimpakan padanya selalu ditanggapi dengan sikap, “aku bekerja bukan untuk kalian, dan karenanya aku tidak perlu mempertanggungjawabkan pekerjaanku kepada kalian.”

Capello merasa mulai berhasil mengubah sikap pemain justru bukan saat Inggris bermain bagus atau memenangkan pertandingan, tetapi justru ketika kalah dalam pertandingan persahabatan 0-1 melawan Prancis.

Media Inggris menyebut pertandingan itu membosankan, pemain Inggris tak punya semangat, kalah kelas, kalah taktik, dan kalah strategi. Tak beda dengan tim-tim Inggris sebelumnya. Capello berkata, “Mereka runner up Piala Dunia. Dan permainan kalian menandingi mereka. Kalian, kita, semakin baik, meningkat, dan maju.” Betapa beda penilaian media dan Capello. Dan Capello mengungkapkan penilaiannya itu secara terbuka tak peduli apa kata media. Pemain pun seperti tersadarkan untuk siapa mereka bermain.

Langkah lain Capello adalah membongkar aristokrasi pemain elit Inggris dan mengembalikan sistem meritokrasi seperti seharusnya. Nama besar pemain kalau sedang tidak bagus maka akan ia buang. Contoh klasik adalah Michael Owen.

Berulangkali di masa lalu Owen, asal sehat dan tidak cedera, akan secara otomatis dipanggil tim nasional. Tetapi sudah setahun terakhir, walau beberapa bulan di antaranya disebabkan oleh cedera, tidak pernah dipanggil oleh Capello. Ia mengatakan tidak menutup pintu untuk Owen, tetapi pada saat bersamaan mengatakan semua pemain Inggris mempunyai kesempatan untuk masuk tim nasional, siapapun dia.

David Beckham, walau sudah diberitahu kalaupun dipilih tidak akan menjadi pemain inti, bersedia bersusah payah menjadi pemain pinjaman di AC Milan. Ia tahu Capello seperti apa karena pernah bermain untuknya di Real Madrid.

Bukan hanya pada pemain dan media Capello bersikap tegas. Terhadap klub-klub Inggris ia menunjukkan siapa yang sebenarnya berkuasa. Sama dengan sikapnya terhadap media, Capello walau mengerti harus bekerja sama dengan berbagai klub yang ada, tetapi juga melihat klub sering egois dan tidak mau berkorban demi tim nasional.

Di masa lalu terlalu sering manajer tim nasional seperti tunduk dengan manajer klub, terutama klub besar. Klub dengan mudah menarik pemain mereka dari pertandingan persahabatan dengan alasan cedera. Klub cukup mengirimkan surat dari dokter klub tentang yang dialami pemain itu.

Kini surat dokter klub tidak cukup. Pemain yang dipanggil tim nasional kalau berhalangan karena cedera harus juga diperiksa tim kesehatan tim nasional. Barulah diputuskan apakah pemain yang bersangkutan memang layak istirahat. Capello mengancam, pemain yang enggan memenuhi tuntutan persyaratannya tidak akan lagi dipanggil selama ia memegang tim nasional.

Tak heran kalau pernah pemain sekaliber Steven Gerrard bersedia pulang balik sejauh 750 kilometer hanya untuk membuktikan ia memang cedera. Liverpool sangat marah karena Capello tidak mempercayai dokter klub, tetapi tidak mampu berbuat apa-apa.

Capello tidak peduli bahwa kebijakan-kebijakannya membuatnya tidak disukai banyak pihak. Sejak lama, sejak ia pertama kali merintis karir sebagai manajer sepakbola, ia tahu tidak sedang beramah-tamah untuk mendapat teman baru. Yang ada dibenaknya hanyalah bagaimana ia bisa sukses memenuhi tuntutan kontraknya. Dan ia akan dinilai berdasar hasil kerjanya, bukan berapa banyak teman yang ia dapat. Setahun pertama memegang tim nasional Inggris, harus diakui nilainya memang memuaskan.

gimana sama timnas?

Filed under: jalan-jalan Jalan Hidup

Pernikahan Dini

puji-2Saya bukannya mau ikut-ikut memperbesar masalah ini. Saya juga bukannya mau ikut-ikut orang-orang yang pada ngebahas orang ini (udah telat kayanya yak? soalnya isunya kayanya udah reda). Karena saya lebih saya bermain di blue ocean daripada ikut-ikutan rame di red ocean.

Menurut saya, secara hukum orang ini gak bersalah apa-apa. Karena pernikahannya kan dilaksanakan secara agama dan secara agama pernikahannya sah (gak tau juga sih, gw gak ngerti hukum). Hanya saja, kata saya, orang ini sesumbar sekali. Entah mengapa saya benci sekali pada orang yang suka sesumbar di muka umum. Itu mungkin mengapa saya tidak suka pada bapk RS yang sekarang nyalon jadi caleg. Sepertinya tidak ada rendah hatinya sama sekali. Padahal setau saya yang namanya syekh itu tidak seperti itu. Atau jangan-jangan memang namanya dia itu syekh dari lahir. Maksutnya, bapak ibunya memang memberi dia nama syekh gitu.

Hanya saja yang jadi pertanyaan, dari sekian banyak wanita yang ada di muka bumi ini dari segala usia, kenapa yang dipilih itu yang berusia 12 tahun? Bahkan mengincar lagi yang berusia 9 tahun dan 10 tahun (CMIIW)? Oke, I’m a man, and prefer a younger one. Tapi kayanya gak semuda itu deh.

Saya percaya, dari apa yang saya pelajari, bahwa perempuan adalah baju bagi laki-laki, dan hal itu berlaku sebaliknya, laki-laki adalah baju dari bagi perempuan. Itu yang saya percayai.

Kenapa diumpakan seperti baju? Sejauh yang saya pahami, pakaian adalah salah satu kebutuhan pokok manusia. Lebih pokok dari pada handphone! Pakaian digunakan untuk melindungi tubuh, dari kotoran, dari terik matahari, dan dari rasa malu. Sorri, kita bicara manusia normal di sini, bukan eksebisionis sejati. Seperti itulah seharusnya hubungan suami istri menurut saya. Gak tau juga sih sebetulnya kaya apa, secara saya juga belum punya bini. Tapi seperti lah yang saya pahami. Suami melindungi istrinya dari hal-hal yang dapat melukainya. Menjaga kehormatan istrinya. Begitu juga sebaliknya. Istri harus dapat menjaga suaminya. Termasuk dari dirinya sendiri. Menjaga kemaluan suaminya. Errrrr……maksutnya menjaga suami supaya terhindar dari rasa malu.

Sekarang, bukannya mau merendahkan, apa yang diharapkan dari anak 12 tahun? Apa dia sanggup melakukan tugasnya? Semoga saja sih iya. Saya sempat tau memang adanya pernikahan usia muda yang biasanya terjadi di kampung. Tapi 12 tahun, tetap saja saya pikir terlalu muda.

Yang bikin saya tambah bete adalah, buku yang dijadikan pegangan itu adalah “Aisyah saja Menikah Muda”. OMG! Aisyah memang menikah muda. Tapi apa itu sunnah? Please deh! Gak semua yang dilakukan oleh Rasul itu sunnah. Kalo itu memang sunnah, silahkan reply, saya akan periksa dan jika memang benar, saya tarik pendapat saya dan menjadi pujimania. Memangnya dia siapa, menyamakan dirinya dengan Rasul.

Bagaimana kalo cerai saja? Kabar-kabarnya sih, si Ulpe nya juga gak mau dan itu wajar sih kalo kata gw. Siapa sih yang nolak diperlakukan seperti ratu? Terus siapa pula yang ngusulin kaya gini? Saya juga gak ngerti ilmu psikologi sih (dooh, terus gw ni ngertinya apa sih), tapi gimana coba rasanya jadi janda di umur 12 tahun?

Kalo kata gw sih, yang ada unsur bersalahnya ya orang tuanya si Ulpe. Meskipun ngakunya hal ini sudah ditanyakan ke Ulfa sendiri, tapi anak umur 12 tahun ngerti apa masalah pernikahan? Saya gak ngerti apa yang ada di pikiran orang tuanya, tapi menurut saya, mereka telah merenggut masa kanak-kanak Ulfa.

Terserah kalian lah…

Disclaimer:
Tulisan ini murni pendapat saya. Saya tidak menjamin kebenarannya. Jadi saya tidak bertanggung jawab apabila ada yang mengutip pendapat saya dan mengakui nilai kebenarannya. Oleh karena itu, saya tidak dapat dituntut atas tulisan ini.

Filed under: jalan-jalan Jalan Hidup

Dibuka

  • 16,305 kali

Hari-hari Menghitung Hari

Desember 2009
S S R K J S M
« Feb    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Kata Orang.....

Budy Singadilaga di Tentang Sekuence Mining
lim i kuang surabaya di Foto Darah Gw
beib di Cerita Tentang Cewek
Rere di Cerita Tentang Petot, Sange Da…
boy di Pernikahan Dini

Tentang

Blog ini punya Nuruddin Arroniry. Cuma sedikit yang bisa Terungkap. Kalo sumbang jangan didengarkan. Kalo merdu ikutlah bernyanyi.

Powered by  MyPagerank.Net

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
Add to Technorati Favorites
BlogFam Community
naruto
Which Naruto Character Are You?
Test by naruto - kun.com

I am ichigo!

Dapur dan Kepulan Asapnya