Tiap orang punya kebebasan buat milih emang. Karena kebebasan untuk memilih adalah salah satu hak yang dibawa manusia sejak dilahirkan. Yah…emang sih, apa yang Anda akan baca akan sangat erat berkaitan dengan apa yang sedang nge-trend di kampus. Buat yang gak ngerti, silahkan baca di sini. Males kalo harus nulis lagi.
Menentukan topik TA, tugas akhir, termasuk dalam hal kebebasan memilih tersebut. Tiap mahasiswa berhak memang untuk memilih topik tugas akhirnya. Dan setiap pilihan. pasti ada konsekuensinya.
Sebetulnya tulisan ini dibuat untuk menanggapi polemik yang sedang ada di kampus saya. Risih sebetulnya mendengar hampir tiap orang membicarakan hal ini. Hal yang menurut saya sepele. Tapi sepertinya dibesar-besarkan sekali.
Saya memang termasuk orang-orang yang menghadapi pilihan tersebut. Paksaan kata sebagian orang. Terserah. Saya tidak ambil pusing. Buat apa? Oleh karena itu, tulisan ini bukan pembelaan diri. Apalagi pembenaran atas tindakan yang saya ambil. Mungkin bagi orang-orang yang benar-benar mengenal saya, akan sedikit heran dengan pilihan yang saya ambil. Tapi saya melakukan itu dengan kepala yang jernih dan perhitungan yang matang.
Kata siapa kebebasan terpasung? Jangan terlalu membesar-besarkan masalah lah. Kebebasan tetap ada di sana. Menunggu ajakan setiap orang yang mampu memikul beban tanggung jawab yang besar. Karena nilai sebuah kebebasan tidak lah kecil. Kalo memang sudah siap memikul tanggung jawab, ya katakan saja “maaf pak, saya tidak bisa. Hati nurani saya tidak mampu menerima hal itu. Mungkin ada cara lain yang bisa saya tempuh supaya saya bisa lulus?”
Wajarlah jika pilihannya lulus atau tidk lulus. Memangnya berapa orang dari kita yang mengerjakan tugas paper itu dengan sungguh-sungguh? Dalam artian menurunkan rumusnya sendiri. Berkonsultasi ke sang bapak jika menemui kesulitan. membuat program sendiri. Hanya saja sebagian besar dari kita justru larut dalam paradigma negatif yang berbisik hal-hal seperti itu tidak mungkin. Tetapi memangnya usaha yang dilakukan selama satu semester ini cukup sebanding dengan nilai sebuah kelulusan? Usaha mencetak laporan sebanyak 20 halaman?
Saya pribadi sih tidak.
Apakah diantara kita sudah menilai hal ini dari sudut pandang yang netral? Bukan dari sudut pandang seorang mahasiswa yang egonya terusik karena sebuah pertanyaan.
Menurut saya, jalani sajalah resiko dari pilihan yang kita ambil. Kalo mengatakan tidak, ya besok-besok ketika mengambil mata kuliah ini lagi, tinggal mengerjakan paper dengan sungguh-sungguh. Konsultasikan dengan sang bapak jika tidak mengerti. Kalo mengatakan ya, ya cari judul yang sesuai dengan minat. Kerjakan dengan sungguh-sungguh. Kalo memang benar-benar tidak mampu, tinggal konsultasi dengan sang bapak. Bapak itu jauh lebih baik daripada sosok yang ada dalam pikiran negatif kita.
Saya rasa, satu-satunya alasan untuk mengatakan tidak adalah harga diri kita yang terlalu tinggi untuk mengatakan ya. Padahal, tidak semua dari kita tahu tetang hal yang dibicarakan. Memangnya apa ruginya kalo kita mengatakan ya?
Sudahlah. Tambah lama tambah risih membicarakan hal ini. Anda boleh bilang saya tidak jantan, banci atau apa pun sehubungan dengan pilihan yang saya pilih. Tapi saya tidak melihat alasan yang masuk akal untuk bisa menolak tawaran tersebut. Dan Anda tidak perlu repot-repot mengisi komentar kali ini. Karena saya bukan fakir komen dan blogger terlantar
Filed under: jalan-jalan Jalan Hidup
leh, kok malah ‘pembelaan diri’ gini..
gw gak nyerang lo din, sama sekali nggak berniat bwt nyerang sapa2. gw tau klo masing2 orang pasti udah mikir masak2 sebelum menjatuhkan pilihannya, apalagi elo,,
yang gw permasalahin itu buat orang2 yang menjalaninya sebagai keterpaksaan, klo kata guguk juga, klo keterpaksaannya kebawa sampe blakang. na itu baru bermasalah. alasan dari keterpaksaan juga bisa menjadi hal tersendiri, lain jika alasannya atas dasar ’sentimen terhadap dosen’ ketimbang ‘kekurang-mampuan seseorang dalam bidang tersebut’. beda antar orang yang ndak mau nyoba dari awal sama orang yang ngerasa ndak mampu coz udah nyoba dan ndak kuat
banci itu istilah buat orang2 yang lari dari tangung jawab atas apa yang udah dipilihnya, dan gw yakin lo ndak bakal lari dari apa yang lo dah tetapin. bukannya gw yang banci coz gw jadi pengkhianat? (meskipun secara baik2 dan menumbalkan usman)
*ngakak-guling2-banting2*
ada banyak alasan untuk mengatakan tidak din, g cuman itu saja. soalnya kita memang dihadapkan dengna pilihan yang sulit. klo kita menanyakan pada hati kita maka jawabannya adalah ‘ya’ dan ‘tidak’, ketika kita bertanya kepada otak/ pikiran kita akan bertambah dengan ‘ya, tapi’ atau ‘tidak’ dengan alasan yang berbagai macam. klo kita bertanya kepada ego maka ‘tidak, saya tidak mau dibelenggu dengan keterpaksaan ini’.
yang jelas keputusan ada ditangan kita(entah itu dlm posisi terpaksa, pikiran jernih atau apalah), karena kita yang mengambil keputusan dan kita juga yang menanggung semwa risiko yang ada.
@venddd:
loh, kok pembelaan diri? kan udah jelas-jelas udah ditulis ini bukan pembelaan diri. Ini itu, “cuman” tanggapan atas beberapa tulisan yang beredar di dunia blog. Meski gak aku ping balik. Itu “doang”
@koecing:
terserah lah
@guguk:
sepakat. Cuman yang namanya pilihan pasti sulit. Tapi tinggal ambil keputusan aja to?
kalo aku, ya udah nyoba dan nggak kuat. trus, mau diapain lagi coba? untunglah, bapaknya mau ngerti kok.
Benernya sih, bapaknya itu baik kok, bicara aja dari hati ke hati. aku udah ngerasain gitu. udin juga. vendy (mungkin) juga
. tapi yang lain? aku nggak tau yaaa….
@udin : ya makanya pake tanda kutip, soalnya meskipun kmu tulis begitu, tapi yang tersirat laen
@dr : bapaknya emang baek, hanya saja aku kurang cocok dengan keilmuan beliau
@venddd: baek ato enggak orang emg ngaruh ma keilmuan?
@udin : iya, tinggal ngambil keputusan emg, bisa aja seh din make koin
ato dadu :p. tp tetep aja kan mikirin sebelum dan sesudah ngambil
keputusan.
@guk : ya enggak tau si, yang jelas aku ndak cocok (dan ndak mampu) sama bidang yang beliau tekuni, itu aja
Haaaiiiiyyyaaaaaaaaaaaaaaa…………………
I have sold my soul to Mordor, now I am Paperwraith…
sabar yah…
kayaknya perlu pendekatan sama dosen nih
*sok tau MODE ON*
Tenang aja, pasti lulus koq. Tapi masalahnya, Kapan? Kalo nggak Mei ya September. Tergantung kita aja mau pilih mana.